Selasa, 13 Maret 2012

Roro Mendut: Potret Kebebasan Memilih ala Wanita JAwa

                                                                                         Roro Mendot 



Roro Mendut dalam cerita rakyat Indonesia, adalah seorang perempuan cantik yang hidup di Pulau Jawa pada zaman Kesultanan Mataram abad ke-17. Kecantikannya memukau semua orang, termasuk Wiroguno yang sangat berkuasa saat itu. Namun, Roro Mendut bukanlah wanita yang lemah. Dia berani menolak keinginan Wiroguno yang ingin memilikinya. Bahkan dia berani terang-terangan untuk menunjukkan kecintaannya kepada pemuda lain pilihannya, Pronocitro (Pranacitra, dalam bahasa Indonesia). Wiroguno yang murka mengharuskan Roro Mendut untuk membayar pajak kepada kerajaan. Roro Mendut pun harus berpikir panjang untuk mendapatkan uang guna membayar pajak tersebut. Sadar akan kecantikannya dan keterpukauan semua orang terutama kaum lelaki kepadanya, akhirnya dia tiba pada suatu ide untuk menjual rokok yang sudah pernah dihisapnya dengan harga mahal kepada siapa saja yang mau membelinya. Roro Mendut dan kekasihnya, Pranacitra, mati bersama demi cinta mereka. Erotisme Roro Mendut ketika berjualan rokok lintingan, dengan lem dari jilatan lidahnya, menggambarkan potensi perempuan dalam pemasaran. Di samping itu, penolakan Roro Mendut diperistri oleh Tumenggung Wiroguno memperlihatkan kemandirian perempuan Nusantara saat itu.

Sartre ala Mendut


Jean-Paul Sartre (Paris, 21 Juni 1905 – id. 15 April 1980) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap mengembangkan aliran eksistensialisme. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L'existence précède l'essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamné à être libre). Boleh jadi seperti itulah Roro Mendut dalam benak Romo Mangun.
Mendut yang gadis pantai merasa tidak memiliki apa-apa, maka dengan sekuat tenaga ia mempertahankan satu-satunya yang ia miliki kebebasan. Selain karena memang berasal dari keluarga miskin, tradisi sosial masyarakat Jawa memang tidak mengijinkan adanya kepemilikan berlebih bagi masyarakat nonistana. Apalagi Mendut yang "hanya" perempuan. Ia hanya mencoba menikmati kebebasan yang ia miliki karena semasa di desanya itulah anugerah yang paling ia syukuri.
Jika sartre memilih kebebasan manusia dalam memilih menjadi pilihan hatinya setelah menyaksikan tragedi PD II, maka Mendut tersadarkan setelah diboyong Adipati Pati kemudian dijadikan boyongan perang oleh Mataram. Ia semakin tergila-gila akan kebebasan setelah dinyatakan akan dijadikan selir oleh Wiraguno, laki-laki yang sepantasnya menjadi kakeknya. Meski sebelunya di Pati ia sempat mengutarakan pandangan-pandangannya yang lain dari keumuman tradisi waktu itu bahkan kini.
Pandangan-pandangan tersebuit patut dijadikan teladan kaum laki-laki juga dicetuskan Mendut. Seperti bagaimana ia memandang sebuah keperawanan. Mendut mengatakan bahwa keperawanan tidak mutlak ditentukan dari segi fisik, namun juga segi psikis. Menurut atau tidaknya perempuan ketika bersetubuh, itulah nilai utama sebuah keperawanan (halaman 33 – 34). Pandangan yang sangat jarang dimiliki kaum perempuan dan lelaki. Melihat bagaimana Mendut berpikir, maka kebebasan ala Sartre pun sebenarnya melekat kuat dalam pikiran Gadis Pantai ini. Jika Sartre menekankan kebebasan bagi manusia untuk memilih apa yang akan ia lakukan, Mendut melakukannya terutama dengan pikirannya. Ketika ia memilih dalam berbentuk tindakan, semua itu merupakan kalkulasi dari pikirannya selama ia belum bebas. Karena "Manusia adalah kebebasan", demikian kata Sartre, "tidak cukup dengan mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang menginginkan kebebasan, manusia adalah kebebasan itu sendiri". Inilah corak humanis pemikiran sartre. Kebebasan berarti memilih, menentukan sikap dari sekian alternatif yang dimungkinkan. Manusia bebas memilih jalan hidupnya sendiri tanpa harus ditentukan oleh orang lain atau faktor objektif lainnya.
Ketegaran Roro Mendut untuk mati demi cinta, kian menegaskan bahwa ia bereksistensi melalui pilihannya itu. Selain ia merasa bebas memilih, ia pun bebas menentukan apa yang harus ia lakukan tanpa pengaruh nilai-nilai yang mencibirnya.sebagai wanita Jawa yang "hanya" menjadikonco wingking, harus siap surga nunut, neraka katut terhadap laki-laki. Namun Mendut tidak memilih keduanya, ia tidak sudi dijadikan istri pemenang perang sebagaimana layaknya tradisi wanita timur diperlakukan. Ia juga tidak mau menjalani hidupnya dengan mengekor kejayaan laki-laki. Ia menciptakan alternatif sendiri yang berada di luar nilai-nilai yang berlaku di masyarakat Jawa kala itu.
Kesadaran Roro Mendut bahwa ia memiliki potensi eksistensial – kecantikannya – membuat ia semakin yakin dengan kebebasan memilih dalam dirinya. Wanita Jawa yang diharuskan tradisi untuk kalem dalam segala hal, tentu sangat sulit seperti Roro Mendut. Penari tayub yang hanya memaksimalkan keahliannya dalam menari bahkan diidentifikasikan sebagai pelacur. Stigma negatif inilah yang dihadapi dengan gagah berani oleh Mendut. Pada akhirnya bisa dikatakan bahwa Roro Mendut memperjuangkan apa yang dikatakan oleh Somone bahwa: tidak ada sifat wanita dan sifat pria... sebaliknya, kaum wanita dan pria harus membebaskan diri mereka dari prasangka-prasangka atau ide mendarah daging itu.
Ide atau prasangka mendarah daging inilah yang mencoba dihapus perlahan-lahan oleh Romo Mangun melalui sebuah "pembuktian" sejarah. Meski berakhir sedih, namun setidaknya Roro Mendut menyadarkan kita bahwa nasib tergantung kita yang menjalanai. Tidak serta-merta kita harus menjalani apa yang dititahkan tradisi – kerajaan. Selalu ada pilihan dan keberanian untuk memilihlah yang diperlukan oleh pelaku. Sebab memang itulah inti dari eksistensialisme. Berani berbuat, berani bertanggung jawab.
Keberadaan Roro Mendut sebagai pelaku sejarah freminisme-eksistensialis membuktikan bahwa keberadaan wanita memang sangat berperan dalam kehidupan. Selain itu juga membuktikan bahwa wanita juga bisa menjadi seperti apa yang diinginkannya. Mangun Wijaya telah membuktikannya melalui Roro Mendut. Dan Mendut berani membuktikan keyakinannya meski resiko yang ia tanggung juga tidak kecil.
Yang pasti eksistensialisme Roro Mendut telah mengakar dalam budaya Jawa. Sadar atau tidak keberadaan kisah Roro Mendut merupakan ‘tabungan" bagi wanita Jawa dalam mengapresiasi kehidupannya. Akan selalu ada Roro Mendut yang lain, tentu dengan cerita yang berbeda. Yang jelas, menentukan nasib sendiri adalah kebebasan yang tiada terkira. Semua manusia berhak memilikinya, karena hanya dengan itulah kita dapat memaksimalkan keberadaan sekaligus fungsi kita di dunia.


Secara garis besar tidak jauh berbeda dengan cerita rakyat yang beredar di masyarakat Jawa. Namun Mangunwijaya berhasil mengelaborasi prinsip perempuan sebagai pemegang nasib sendiri dengan kungkungan sejarah yang pyur patriarki. Di sinilah pencerahan yang dapat diambil pembaca ketika menyimak novel sejarah Roro Mendut.

Posted on 21.44 / 1 komentar / Read More

Tragedi Cinta Roro Mendut



                                                                       RORO MENDOT








Berawal sama-sama menghadapi hidup penuh penderitaan di masa bocah, Roro Mendut dan Kumuda akhirnya dipertemukan. Kumuda yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga mafia hingga nyaris tidak pernah mengenal Tuhan, bertemu dengan Roro Mendut yang walaupun masih bocah dan hidup miskin serta terlunta-lunta tetapi sudah mendalami ilmu agama dengan baik.


Karena mengalami suatu musibah yang menimpa pada keluarga mereka masing-masing, Roro Mendut dan Kumuda sempat terpisahkan. Dan pada saat usia dewasa, mereka pun dipertemukan kembali dalam situasi yang sudah berbeda.


Setelah mana Kumuda yang oleh Kyai Kanduruhan berhasil digembleng, baik ilmu agama (Islam) maupun olah kanuragaan, lantas sama-sama jatuh cinta bahkan kemudian menikah dan hidup berbahagia.


Namun aral pun melintang sesaat setelah mereka melangsungkan pernikahan. Wiraguna yang berencana akan membangun pusat perjudian terbesar diwilayah mana Roro Mendut dan Kumuda menetap tinggal bahkan berhasil menciptakan kemakmuran didaerah tersebut, akhirnya nekad menculik Roro Mendut untuk dijadikan sandera. Dengan harapan, Kumuda dapat berubah pikiran lalu bersama-sama mewujudkan rencana Wiraguna.


Kumuda yang menyamar sebagai Pranacitra, berhasil menyusup ke kediaman Wiraguna setelah mengungguli pertarungan adu jago yang diadakan oleh Sapto, ayah Wiraguna. Roro Mendut yang saat itu tengah disekap oleh Wiraguna pun berhasil dibawa kabur menuju keperbatasan wilayah kekuasaan Wiraguna. Mengetahui hal tersebut, Wiraguna tidak tinggal diam. Ia dan sang guru yang berasal dari alam gaib yakni jin kafir, kembali berusaha merebut Roro Mendut dari tangan Kumuda.


Setelah berupaya keras mempertahankan sang isteri tercinta, Kumuda harus menerima kekalahan. Dan yang lebih menggenaskan lagi, Roro Mendut dan Kumuda harus menemui ajal mereka secara bersamaan. Namun kematian sepasang suami istri itu tak sia-sia. Karena kematian mereka berdua justru mengakibatkan kehancuran pula pada Wiraguna dan sang guru jin dari muka bumi
Posted on 21.33 / 0 komentar / Read More

Legenda Putri Loro Jonggrang

                                                                              RORO MENDOT 

Pada jaman dahulu kala di pulau Jawa terutama di daerah Prambanan berdiri 2 buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pengging dan Kraton Boko. Kerajaan Pengging adalah kerjaan yang subur dan makmur yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Damar Moyo dan mempunyai seorang putra laki-laki yang bernama Raden Bandung Bondowoso.

Kraton Boko berada pada wilayah kekuasaan kerajaan Pengging yang diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka yang tidak berwujud manusia biasa tetapi berwujud raksasa besar yang suka makan daging manusia, yang bernama Prabu Boko. Akan tetapi Prabu Boko memiliki seorang putri yang cantik dan jelita bak bidadari dari khayangan yang bernama Putri Loro Jonggrang.

Prabu Boko juga memiliki patih yang berwujud raksasa bernama Patih Gupolo. Prabu Boko ingin memberontak dan ingin menguasai kerajaan Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.

Setelah persiapan dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju kerajaan Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kerajaan Pengging antara para prajurit peng Pengging dan para prajurit Kraton Boko.

Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat kelaparan dan kemiskinan.

Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit yang meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya Raden Bandung Bondowoso maju perang melawan Prabu Boko dan terjadilan perang yang sangat sengit antara Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko dapat dibinasakan. Melihat rajanya tewas, maka Patih Gupolo melarikan diri. Raden Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo ke Kraton Boko.

Setelah sampai di Kraton Boko, Patih Gupolo melaporkan pada Puteri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di medan perang, dibunuh oleh kesatria Pengging yang bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka menangislah Puteri Loro Jonggrang, sedih hatinya karena ayahnya telah tewas di medan perang.

Maka sampailah Raden Bandung Bondowoso di Kraton Boko dan terkejutlah Raden Bandung Bondowoso melihat Puteri Loro Jonggrang yang cantik jelita, maka ia ingin mempersunting Puteri Loro Jonggrang sebagai istrinya.

Akan tetapi Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso karena ia telah membunuh ayahnya. Untuk menolak pinangan Raden Bandung Bondowoso, maka Puteri Loro Jonggrang mempunyai siasat. Puteri Loro Jonggrang manu dipersunting Raden Bandung Bondowoso asalkan ia sanggup mengabulkan dua permintaan Puteri Loro Jonggrang. Permintaan yang pertama, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan sumur Jalatunda sedangkan permintaan kedua, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan 1000 candi dalam waktu satu malam.

Raden Bandung Bondowoso menyanggupi kedua permintaan puteri tersebut. Segeralah Raden Bandung Bondowoso membuat sumur Jalatunda dan setelah jadi ia memanggil Puteri Loro Jonggrang untuk melihat sumur itu.

Kemudian Puteri Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur. Setelah Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, Puteri Loro Jonggrang memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dan Raden Bandung Bondowoso pun tertimbun batu di dalam sumur. Puteri Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung Bondowoso telah mati di sumur akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung Bondowoso belum mati maka ia bersemedi untuk keluar dari sumur dan Raden Bandung Bondowoso keluar dari sumur dengan selamat.

Raden Bandung Bondowoso menemui Puteri Loro Jonggrang dengan marah sekali karena telah menimbun dirinya dalam sumur. Namun karena kecantikan Puteri Loro Jonggrang kemarahan Raden Bandung Bondowoso pun mereda.

Kemudian Puteri Loro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Raden Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1000 candi dalam waktu 1 malam. Maka segeralah Raden Bandung Bondowoso memerintahkan para jin untuk membuat candi akan tetapi pihak Puteri Loro Jonggrang ingin menggagalkan usaha Raden Bandung Bondowoso membuat candi. Ia memerintahkan para gadis menumbuk dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk pertanda pagi sudah tiba dan ayam pun berkokok bergantian.

Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta di timur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak dapat meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba. Akan tetapi firasat Raden Bandung Bondowoso pagi belum tiba. Maka dipanggillah Puteri Loro Jonggrang disuruh menghitung candi dan ternyata jumlahya 999 candi, tinggal 1 candi yang belum jadi.

Maka Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso. Karena ditipu dan dipermainkan maka Raden Bandung Bondowoso murka sekali dan mengutuk Puteri Loro Jonggrang "Hai Loro Jonggrang candi kurang satu dan genapnya seribu engkaulah orangnya". Maka aneh bin ajaib Puteri Loro Jonggrang berubah ujud menjadi arca patung batu.

Dan sampai sekarang arca patung Loro Jonggrang masih ada di Candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua) karena telah membantu Puteri Loro Jonggrang.

Dan menurut kepercayaan orang dahulu bahwa pacaran di candi Prambanan akan putus cintanya.
Posted on 09.24 / 0 komentar / Read More

Kisah Rara Mendut

Latar belakang


Dikisahkan kecantikan Rara Mendut telah memukau semua orang, dari Adipati Pragola penguasa Pati, sampai termasuk juga Tumenggung Wiraguna ("Wiroguno", dalam bahasa Jawa), panglima perang Sultan Agung dari kerajaan Mataram yang sangat berkuasa saat itu. Namun, Rara Mendut bukanlah wanita yang lemah. Dia berani menolak keinginan Tumenggung Wiraguna yang ingin memilikinya. Bahkan dia berani terang-terangan untuk menunjukkan kecintaannya kepada pemuda lain pilihannya, Pranacitra ("Pronocitro", dalam bahasa Jawa).

Tumenggung Wiraguna yang murka dan iri kemudian mengharuskan Rara Mendut untuk membayar pajak kepada kerajaan Mataram. Rara Mendut pun harus berpikir panjang untuk mendapatkan uang guna membayar pajak tersebut. Sadar akan kecantikannya dan keterpukauan semua orang terutama kaum lelaki kepadanya, akhirnya dia tiba pada sebuah cara untuk menjual rokok yang sudah pernah dihisapnya dengan harga mahal kepada siapa saja yang mau membelinya. Dikisahkan bahwa Rara Mendut dan kekasihnya Pranacitra akhirnya mati bersama demi cinta mereka.
[sunting] Sebagai sejarah

Erotisme Roro Mendut ketika berjualan rokok lintingannya, dengan lem dari jilatan lidahnya, menggambarkan telah dikenalnya potensi perempuan dalam pemasaran, bahkan di zaman kerajaan Jawa abad ke-17. Di samping itu, penolakan Rara Mendut diperistri oleh Tumenggung Wiraguna yang notabene adalah seseorang yang kaya dan berkuasa, memperlihatkan adanya sifat kemandirian perempuan Nusantara yang telah ada, walaupun tidak umum, pada saat babad tersebut ditulis. Satu hal yang perlu mendapat perhatian dari kisah Roro Mendut adalah bahwa tidak semua hal dapat diperoleh dengan mengandalkan kekuasaan.
Posted on 08.52 / 0 komentar / Read More

Nyai Roro Mendot





























Posted on 08.45 / 0 komentar / Read More

Malam muliaMu



kembali lagi aku tersingkirkan
hati ini semakin padam
bingung tiada arah tujuan
tersuntuk aku dalam kusam

ahhhh.... mengapa?
aku tak dapat memilih arah yang pasti
terombang-ambing diriku kini
pikiran aku pun mulai kosong tak berisi
inikah yag dinamakan kebodohan?
ingin menjerit tapi tak bisa
karna aku sudah letih dengan permasalahan yang ada

bantu aku tuhan
dari semua keterpurukan aku ini
berilah aku sedikit harapan
agar aku dapat menyelesaikan semuanya
aku tak tahu lagi siapa yang dapat menolongku
hanya tangan mengadahlah yang aku lakukan
saat ini atau pun detik ini
aku benar-benar sudah tak berdaya
butuh sinar terang agar aku bisa semangat kembali

tunggu aku tuhan
di setiap malam-malamMu yang penuh rahasia
rinduku pada malam muliaMu
Posted on 07.52 / 0 komentar / Read More

Mengenai Saya

Foto Saya
Cinta Tentu saja, alasan terbaik untuk mengatakan “Aku mencintaimu” adalah karena Anda benar-benar mencintai orang tersebut. Namun mungkin, Anda akan menemukan momen dalam hidup ketika Anda melontarkannya tanpa alasan tertentu.

Pengikut

Backlinks Otomatis

Ingin Link anda nonggol disini silahkan copy paste link Majalah Roro Mendot dibawah ini ke blog anda setelah itu klik link Majalah Roro Mendot dari blog anda dan lihat hasilnya link anda otomatis nempel disini selamanya

Pasang Banner Gratis

Pasang Banner Gratis

 
Copyright © 2019. Majalah Roro Mendot . All Rights Reserved Design by Roro Mendot